Fibrous Displasia

PEMBAHASAN

Fibrous displasia adalah satu jenis kelainan tulang dari lesi fibro-osseus yang merupakan kondisi patologis jinak pada tulang dan sering dijumpai pada maksila, tulang tengkorak maupun mandibula. Perubahan kondisi tulang yang terjadi berupa pembentukan jaringan mesenkim yang abnormal dimana terjadi penggantian tulang spongiosa dengan jaringan fibrous. Pada kebanyakan kasus, lesi ini sering dijumpai pada masa anak-anak sebagai anomali kongential, dan pada dewasa muda tetapi jarang mendapat perhatian sampai kemudian pasien menyadarinya. Hal ini disebabkan karena pertumbuhan lesi yangberjalan lambat, tanpa keluhan. Pada keadaan lebih lanjut tulang tengkorak akan mengalami pembesaran dan perubahan bentuk.

Penonjolan dapat mengakibatkan perubahan bentuk wajah (asimetris dari muka ) kemudian dapat juga meluas sampai ke tulang malar dan bagian lain dari pertengahan wajah juga sinus maksilaris dapat terlibat. Perubahan yang parah terhadap tulang akan mengakibatkan terjadinya fraktur yang spontan dan ini merupakan komplikasi dari fibrous displasia. Meskipun perkembangan lesi ini dapat semakin membesar selama bertahun-tahun, tetapi ada kecanderungan berhenti dengan selesainya pertumbuhan tulang.

Tipe monoostotik dan poliostotik seering dipakai pada fibrous displasia yang berarti melibatkan satu atau beberapa tulang disamping tipe Albright`s sindrom untuk lesi tulang yang parah. Perawatan secara operasi lebih disukai daripada penggunaan sinar X, karena denganpenyinaran dilaporkan sering menimbulkan sarkoma.

DEFENISI, KLASIFIKASI, ETIOLOGI

Definisi

Dari beberapa literatur terdapat berbagai defenisi dari fibrous displasia, secara umum defenisi fibrous displasia yaitu suatu penyakit tulang dan merupakan jenis lesi fibro-osseus jinak dapat mengenai satu tulang (monoostotik) atau lebih dari satu tulang (poliostotik), baik uniteral maupun bilateral dimana terjadi penggantian tulang spongiosa oleh jaringan fibrous yang khas dan dapat disertai adanya pigmentasi yang abnormal pada kulit ataupun gangguan hormonal pada wanita yang mengalami pubertas yang terlalu cepat.

Etiologi

Etiologi fibrous displasia yang jelas belum diketahui, namun dari beberapa literatur menjelaskan bahwa lesi fibrous displasia sebagai pertumbuhan yang abnormal dan merupakan penyakit asimptonik yang dijumpai secara tidak sengaja pada suatu pemeriksaan radiografi.

Eugene Braunwald (1987), menyatakan dasar kelainan penyakit fibrous displasia tidak diketahui, penyakit ini tidak tampak seperti penyakit turunan, meskipun telah dilaporkan mempengaruhi kembar monozygot.

Cardona (1998), penyakit dengan etiologi yang tidak diketahui secara umum didiagnosa pada masa anak-anak atau remaja. Joseph dan james (1989), mengemukakan bahwa fibrous displasia disebabkan adanya suatu reaksi yang abnormal dari karena peristiwa traumatik yang terlokalisasi.

Suatu penelitian menunjukkan bahwa penyakit ini mungkin disebabkan kelainan struktur kimia suatu protein tulang yang mengakibatkan pembesaran sel-sel yang menghasilkan jaringan fibrous. Kelainan kimiawi tersebut terjadi karena mutasi struktur gen yang memproduksi protein. Fibrous displasia mungkin merupakan penyakit kongenital, yang berarti individu-individu yanga menderita penyakit ini mungkin mengidapnya sejak meraka lahir. Firbous displasia ada hubungannya dengan fungsi hormonal dan sering dijumpai pada wanita.

Klasifikasi

Secara umum klasifikasi dari fibrous displasia dipakai dengan istilah monoostotik dan polistotik sebagai bentuk fibrous displasia yang berarti melibatkan satu atau lebih tulang.

Ada juga yang membagi klasifikasinya menjadi 3 kategori utama yaitu:

1. Monoostotik (yang sering dijumpai)

2. Polistotik

3. Sindrom Albright`s

Shafer membagi pliostatik fibrous displasia atas 2 tipe yaitu :

1. Fibrous displasia yang meliputi beberapa tulang tetapi kerangka masih normal dan disertai adanya lesi pigmentasi pada kulit (cafe-au-lai-spot) yang disebut dengan tipe Jaffe.

2. Fibrous displasia yang meliputi seluruh bagian tulang kerangka dan disamping adanya lesi pigmentasi pada kulit juga disertai adanya gangguan kelenjar endokrin yanga disebut sebagai Albright`s sindrom.

Monoostotik fibrous displasia

Monoostotik fibrous displasia merupakan bentuk penyakit fibrous displasia yang hanya melibatkan satu bagian tunggal tulang. Ini dimulai pada masa anak-anak tetapi secara tipikal mengalami pertambahan osifikasi dan tertahan pada masa dewasa. Lebih dari 80 % dari kasus yang ada merupakan kasus monoostotik fibrous displasia.

Monoostotik fibrous displasia biasanya dideteksi pada pasien dewasa muda atau didiagnosa sejak usia 20-30 tahun dan tetap ada perubahan sepanjang hidup. Lesi ini tidak dapat berkembang selama masa pubertas dan dapat lebih buruk selama masa kehamilan.

Monoostotik fibrous displasia secara umum menunjukkan distribusi yang sama pada kedua jenis kelamin laki-laki atau perampuan. Monostotik fibrous displasia meskipun tidak begitu parah dibandingkan poliostotik fibrous displasia namun lebih besar mendapatkan perhatian dokter gigi karena kasus monostotik fibrous displasia sering dijumpai.

Poliostotik fibrous displasia

Poliostotik fibrous displasia merupakan bentuk penyakit fibrous displasia yanga melibatkan terkenanya beberapa tulang tanpa disertai kelainan endokrin terjadi sekitar 25-30% dari kasus yang dijumpai.

Penyakit ini cenderung muncul pada usia sedikit lebih awal dibandingkan dengan monostotik dan perkembangan sampai pertengahan usia orang dewasa. Kedua jenis kelamin mempunyai kemungkinan yang sama terkena penyakit ini. Ada dua tipe poliostotik fibrous displasia yaitu sebagai berikut:

1. Fibrous displasia yang melibatkan sejumlah variabel tulang-tulang, meskipun sebagian besar tulang tengkorak dalam keadaan normal, namun disertai lesi pigmentasi kulit atau bercak-bercak “lafe-au-lait” (tife jaffe).

2. Suatu fibrous displasia yang bahkan lebih ganas dan melibatkan seluruh tulang tengkorak disertai dengan lesi-lesi pigmentasi kulit dan sebagai tambahan terdapat gangguan-gangguan endokrin dari tipe-tipe yang bervariasi (Sindrom Mc Cune Albright).

Sindrom Mc Cune Albright

sindrom ini bercirikan fibrous yang menyebar, area pigmentasi dan disfungsi endrokrin dengan pubertas yang terlalu cepat pada wanita. Lesi tulang ini disebut dengan fibrous displasia. Dasar alami dari kelainan ini tidak diketahui.

Pada beberapa kasus fibrous displasia, dapat terjadi sebagai akibat masalah hormonal dan pigmentasi cutaneus melanotic (makula cafe-au-lait). Konsidi ini diasumsikan sebagai Sindrom Mc Cune Albright. Pasien-pasien yang terkena fibrous displasia hanya pada satu tulang seringnya tidak memperlihatkan siondrom ini.

GAMBARAN KLINIS, RADIOGRAFI, HISTOPATOLOGI DAN HASIL LABORATORIUM

3.1. Gambaran klinis

3.1.1. Monostotik fibrous displasia

Secara klinis monoostotik fibrous displasia merupakan satu penyakit yang asimtomatik, penyakit ini lebih sering pada anak-anak dan dewasa muda yang berusia 20-30 tahun dibandingkan yang berusia lebih tua. Terlihat pembengkakan yang tidak sakit, yang membesar, tidak jelas, berbentuk bulat pada maksila. Massa tersebut dapat menjadi lebih besar untuk menggangu fungsi pengunyahan.

Monoostotik fibrous displasia sering terjadi pada maksila dibandingkan dengan mandibuloa. Lesi pada maksila dapat meluas melibatkan sinus maksilaris, tulang zygomatik, tulang sphenoid dan dasar orbita. Pembengkakan yang tidak stabil, membesar dalam waktu yang lama, menimbulkan pembengkakan unilateral yang mengakibatkan bentuk wajah yang asimetris. Jika pembengkakan berada di maksila maka terdapat pertambahan penonjolan pipi dan perluasan lempeng kortikal.

Pada beberapa kasus, dimana pertumbuhannya lebih cepat dan luas mungkin terjadi pembengkakan yang jelas dari pipi dan exopthalmus. Pada rahang terdapat beberapa gigi yang tidak teratur letaknya, tipping atau berpindah akibat maloklusa dan gangguan pola erupsi, meskipun mobiliti dari gigi yang erupsi bukan merupakan tanda fibrous displasia.

Pada pemerikasaan tidak terlihat perubahan pada mukosa, warna normal, tetap melekat erat pada tulang tanpa kerusakan pada periosteum. Pada beberapa kasus permukaan tulang licin tapi pada kasus lain dijumpai permukaan yang nodular dan ekspansi. Selain itu terlihat pembesaran tulang yang dapat berkembang selama bertahun-tahun, tetapi ada kecenderungan untuk berhenti setelah pertumbuhan tulang selesai.

Pasien dapat memiliki noda ” cafe-au-lait ” pigmentasi kutaneus dengan batas bergerigi. Perubahan ekstraskeletal disertai hiperpigmentasi kulit dan ini tidak bisa terjadi pada monoostotik fibrous displasia.

3.2.1. Poliostotik fibrous displasia

Poliostotik fibrous displasia mempunyai menifestasi awal berupa bentuk deformitas, pembengkakan atau penipisan dari tulang-tulang panjang, dalam penyebarannya sering universal. Gejala pertama biasanya tersembunyi dan membahayakan walaupun rasa sakit pada tulang yang kambuh merupakan simptom skeletal yang paling sering terjadi. Tulang-tulang wajah dan tengkorak sering kali terlibat dan dapat menyebakan asimentris wajah yang jelas, dapat pula melibatkan klavikula tulang felvis, skapula, tulang-tulang panjang, metakarpal dan metatarsal. Karena parahnya perubahan-perubahan yang terjadi pada tulang, maka fraktur spontan merupakan komplikasi yang umum penyakit ini, serta dapat mengakibatkan terjadinya cacat.

Lesi-lesi kulit yang tergabung dalam penyakit poliostotik fibrous displasia ini terdiri atas bercak-bercak pigmentasi melanotic irreguler. Yang dijabarkan sebagai bercak-bercak “cafe-au-lait” karana warna coklat muda. Pada wanita yang terjadi pubertas sebelum waktunya dimana manifestasi pada umumnya adalah pendarahan pada vagina. Dilaporkan adanya suatu variasi lain dari gangguan sistem endorkrin, termasuk dengan apa yang berkaitan dengan pituitari, tiroid, paratiroid dan ovarium.

Lesi ini dapat dijumpai pada maksila dan mandibula. Tetapi kasus poliostotik ini jarang dijumpai oleh dokter gigi. Manifestasi ekstraskeletal dari poliostotik fibrous displasia adalah pigmentasi kulit, tampak seperti makula yang terang atau coklat tua (mengandung melanin) sering berlokasi pada sisi yang terkena, dan kelainan endokrin yang terjadi sekitar 3 % dari seluruh pasien fibrous displasia.

3.2. Gambaran radiografi

Secara umum pemeriksaan roentgen foto pada fibrous displasia memberikan gambaran yang bervariasi dan tergantung pada tahap dari penyakit, mempunyai gambaran yang radiolusen sampai massa radiopaque ynga padat.

Pada daerah yang dikenai terlihat gambaran yang difus atau berbentuk kista dengan batas yang jelas disamping dapat dijumpai gambaran “ground glass “ atau “ orange pell ” .

Bila lesi lebih banyak mengandung jaringan fibous, bagian korteks kelihatan menipis dan pada rontgen foto terlihat gambaran radiolusen. Bila lesi berlanjut maka terjadi penulangan jaringan ikat, dan pada rontgen foto menunjukkan gambaran yang lebih padat. Biasanya lesi lebih cenderung berbentuk kista, baik unilokular maupun mulatilokular dan pada perkembangan lebih lanjut terlihat seperti ameloblastoma. Pada tipe polistotik dijumpai bentuk kista multilokular dan umumnya pada tulang terlihat kelainan medulla dengan trabekula yang tidak teratur.

Lesi ini memperlihatkan jaringan fibrous menempati daerah tulang yang mengalami resobsi dan trebekula menjadi kasar kemudian diikuti proses klasifikasi pada daerah yang mengalami degenerasi terlihat seperti bercak-bercak sedangkan daerah radiolusen nampak bervariasi dengan adanya komponen penulangan pada lesi dan adanya jaringan tulang rawan diantaranya yang akan memperlihatkan gambaran berawan yang disebut clouds of smoke.

Perkembangan penyakit ini selama masa pertumbuhan akan menyebabkan pengikatan kepadatan tulang oleh karena pengapuran sehingga lesi mengenai tulang maksila maka gambaran radiolusen dari sinus maksilaris dapar menjadi hilang.

3.3. Gambaran Histopatologi

Pada pemeriksaan histology dapat menunjukkan berbagai variasi dari tulang yang dikenainya. Terlihat perubahan jaringan tulang yang normal berupa penggantian jaringan spongiosa oleh jaringan fibrous yang mengandung sel-sel bentuk spindle dan tersusun tidak teratur.(1.2)

Trabekula tulang memperlihatkan susuan yang tersebar dalam bentuk “huruf cina”. Osteosit dan jaringan kolagen dari trabekula ini terlihat menyebar ke dalam jaringan fibrous dan pada pertumbuhan lesi lebih lanjut menunjukkan pada daerah jaringan fibrous terjadi pembentukanjalinan tulang oleh sel-sel osteobla. Kavitas sumsum diisi oleh jaringan seperti pasir, berwarna abu-abu, elsastis menggantikan tulang kanseolus normal. Lesi fibrous displasia berisi jaringan fibrolastik yang tampak jinak tersusun pada pola melingkar yang longgar. (2.3.5)

Bentuk seperti pasir disebabkan ketidakteraturan susunan anyaman spikula tulang, dimana susunan tulang ini tidak memiliki jaringan palisade. Spikula tulang tersebut mempunyai garis semen yang menonjol. Pada kira-kira 10 % kasus, pulau-pulau kartilago hialin muncul, dan jaringan miloid dapt menonjol pada pasien muda.(2.6) dan terdapt stroma fibrous bersel spindle yang kecil, longgar dimana trabekulla yang melengkung dan seperti “ cakar lobster” dari susunan tulang nonlamelar, bentuknya seperti osteoblast yang terpisah-pisah.(5)

Trabekula-trabekula ini mempunya karakteristik berupa kista. Kista teratoma yang dewasa dan sering salah disebut sebagai “kista dermoid”, sebanyak 15-20% dari seluruh neoplasma ovarium. Kista tersebut berdinding tebal yang besar berisi rambut dan bahan pultaceous’ dibatasi epitel squamous berlapis dan ademaxae kulit, seperti peuh dengan folikerl kulit dalm dinding kista, bermacam-macam jaringan mungkin ditemui diantaranya cartilage, tulang, gigi, jaringan tiroid, gastro intestinal dan jaringan saraf yang paling umum.(10)

Secara mikrokospis lesi memperlihatkan penggantian tulang normal oleh jaringan fibrous yang mengandung tulang dan trabekula yang metaplasia. Tapi penampakan histology dari fibrous rahang displasia lebih rahang lebih bervariasi dari pada tulang lain.(5)

Jaringan fibrous displasia banyak mengandung sel-sel, dan memperlihatkan bentuk lingkaran yang berisi jalinan berkas kolagen yang telabl. Secara tipikal trabekula tulang yang baru terbentuk halu, tiodak teratur dan berisi susunan tulang berserat kasar dan belum matang dengan jumlah osteoid yang bermacam-macam.(5)

Fibrous displasia terdiri dari beberapa jenis yaitu selulas, proliferasi fibrous jaringan penyambung yang berbentuk foci dan ketidak aturan bentuk trabekula tulang yang tidak matang. Seragt kolagen yang lengkap, tersusun dalam pola stratified (bentuk bertingkat) dari jalinan berkas kolagen. Fibroblast memperlihatkan bentuk yang sama, nucleus bebentuk spindel sampai stellate. Trabekulla tulang dianggap aneh, berbentuk irrengular yang nyata. Tulang ini terutama tenunan tulang yang nampak muncul langsung dari stroma kolagen tanpa aktivitas osteoblast.(1)

3.4 Hasil laboratorium

Tidak ada perubahan-perubahan yang konsisten dari serum kalsium atau fosfor yang signifikan, walaupun level alkalin fosfotase kadangkala meningkat. Juga dilaporkan adanya sekresi premature dari hormone stimulant-folikel, dengan laju metobolik basal yang meningkat secara moderat. (10)


PERAWATAN FIBROUS DISPLASIA

Perawatan yang terbaik dari kasus fibrous displasia adalah dengan pembedahan. Terhadaplesi yang melibatkan tulangrahang dan wajah maka pembedahan harus dapat mempertahankan bentuk estetik dari wajah atau remodeling prosessus alveolaris untuk dapt memperbaiki retensi protesa. Ini berarti perawatan fibrous displasia dilakukan secara surgical contouring yaitu pengambilan massa tumor (lesi) secara pembedahan dengan mengembalikan kontur tulang sebagai semula. Pengambilan tulangmudah dilakukan akarena umumny tulang yang dikernai menjadi lunak dan pengambilan tulang lebih banyak mungkin diperlukan untuk memperoleh penyembuhan yang lebih baik.(4.11)

Perawatan fibrous displasia monoostotik bias anya termasuk kuretase lesi tulang dan jika diperlukan pembalutaan dengan chip (keeping) tulang. Perawatan tipe poliototik dapat memerlukan adanyaprosedur ortopedik untuk menstabilisasi fraktur dan memperbaiki atau mencegah deformitas.(3)

Bila lesi kecil dantidak berkapsul pengmbilan dapat dilakukan tanpa menimbulkan kerusakan tulang yang besar dan tidak menghilangkan kontinuitas tulang. Tetapi jika lwsi telah meluas dan pengambilan secara keseluruhan seampai batas-batas tulang yang terlibat tidak memungkinkan maka pembedahjan dilakukan hanya sampai batas-batas esteteik yang dapat dicapai. Diketahuai bahwa pertumbuhan lesi cenderung berhenti apabila pertumbuhan tulang selesai, sehingga dalam hal ini jika memungkinkan , apabnilapembedahan dimaksudkan tujuan estetik, sebaiknya pembedahan ditunda sampai setelah masa pubertas dimana ada kecenderungan pertumbuhan lesi akan berhenti dan hasil operasi yag dicapai akan lebih memuaskan. Tetapi jika pembedahan harus dilakukan selama masa pertumbuhan tulang karean mengingat segi kosmetik disamping dikhawatirkan kerusakan tulang yang lebih berat maka pembedahan kembali dapat dilakukan pada umur dimana pertumbuhan tulang telah berhenti.(1)

Tindakan pembedahan dilakukan apabila dijumpai beberapa kondisi sebagai berikut, yaitu:

1. lesi menimbulkan rasa sakit

2. lesi menekan atau merusak jaringan di sekitarnya

3. lesi menimbulkan gambaran atau roman muka yang jelek

4. keadaan lesi merupakan predisposisi patologi terhadap kemungkinan timbulnya fraktur

Untuk kasus fibrous displasia yang ringan atau sedang tindakan pembedahan merupakan indikasi, tetapi terhadap bentuk yang lebih parah tidak mungkin dilakukan dengan cara ini, karena ada kecenderungan progresif. Karena alas an inilah penggunaan sinar X mungkin dapat menolong untuk menekan aktivitas ostoblastik dan pda beberapa kasus nampaknya berhsil tetapi perlu mendpat perhatian, perawatan dengan cara penyinaran ini megandung resiko karena ada kemungkinan dapat menimbulkan komplikasi sarcoma seperti yang telah banyak dilaporkan dari kasus fibrous displasia.(2.8.13.)

perawatan dengan penyinaran pada fibrous displasia tidak efektif bahkan disebutkan sebagai kontraindikasi karena radiasi dapat merangsang perkembangan sarcoma. (3.6)


KESIMPULAN

Fibrous displasia adalah penyakit atau kelainan tulang yangdapat dijumpai pada setiap umur, terutama anak-anak dan dapat mengenai satu atau lebih tulang.

Dikenal bentuk monoostotik dan poliostotik disamping tipe Jaffe dan tipe Albright dengan pigmentasi di kulit dan gangguan hormone. Sering dijumpai pada wanita dan etiologinya tidak diketahui, kemungkinan factor trauma dan berhubungan dengan fungsi hormone.

Pembengkakan tulang adalah gejala utama, tetapi kesehatan umum pasien baik dengan data-data laboratorium yang normal. Pembedahan adalah perawatan yang terbaik sedangkan penyinaran adalah berbahaya karena dapat merangsang timbulnya sarcoma.


DAFTAR PUSTAKA

1. Regezi, JA, Sciubba JJ. Oral Pathology Clinical-Pathology Correlations. W.B Saunders Company, Hancourt Brace Jovanovic, Philadelphia, 1989: 372-375. http://usu library.com. Diakses tangggal 14 Agustus 2008

2. Braunwald E, Issel Bacher JL. Harrison’s Principles of Internal Medicine. Edisi 11 , Mcgraw-Hill Book Company, New York, 1987: 1906-9108 http://usu library.com. Diakses tangggal 14 Agustus 2008.

3. mellors RC. Fibrous Dysplasia Of Bone. Last Modified, Cornell University Medical Collage, 30 July 2001: 1-3. http://usu library.com. Diakses tangggal 14 Agustus 2008

4. Cardona F, bagan JV, Lloria E, Jimenez Y, Millan M.A, Fibrous Dysplasia of Jaws. Report or seven cases, oral medicine, 1998; 3, 176-183. http://usu library.com. Diakses tangggal 14 Agustus 2008

5. Soames JV, southam J. Oral Pathology. Edisi 2, Tokyo. Oxford University Press, 1991 : 281-282. http://usu library.com. Diakses tangggal 14 Agustus 2008.

6. Cawson RA. Essentials of Dental Surgery and Pathology. Edisi 5, Churchill Livingstone, 1991 : 281-282. http://usu library.com. Diakses tangggal 14 Agustus 2008

7. Sculy C, Cawson RA. Medical Problem in Dentistry. Edisi 2, Wright Briston 1987: 295-297. http://usu library.com. Diakses tangggal 14 Agustus 2008

8. National Institute Of Health Osteoporosis And Related Bone Disease National, Fast Fact on Fibrous Displasia. Resoursce Center 1232, Whasington DC, 1998:1-5. http://usu library.com. Diakses tangggal 14 Agustus 2008

9. Cawson R.A Aids to Oral Pathology and Diagnosis. Edisi 2. London Churchil Livingstone, 1986:66. http://usu library.com. Diakses tangggal 14 Agustus 2008

4 Tanggapan

  1. Terimkasih atas infonya.
    ibu saya mengindap fibro displasi pada tulang tengkorak. sebaiknya gimana yach? dioperasi apa di sinar? kl disinar kira2 berapa biayanya? terimakasih

  2. sewaktu saya menjadi coas saya pernah jadi asisten pasien fibrodisplasia jika sudah invasif sebaiknya di operasi, dengan terlebih dulu mengkonsultasikan hasil foto ct scan dengan dokter bedah saraf anda. untuk biaya kuarng tau pasti yg jelas dirumah sakit pemerintah bisa menggunakan fasilitas jamkesmas atau askes. semoga lekas sembuh

  3. maaf mau nanya ?? kn cewe saya kna pnyakit fibrodisplasia nah saya ga mau dia sampai cacat !! kira2 enaknya langsung d bawa ke rumah sakit apa gmana ?? soalnya skrng msh kesakitaan !! pliss tolong bantuiiin !!😦
    makasih ya !

  4. pembahasan cukup lengkap dan jelas, kurang gambaran radiologi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: